Rabu, 09 November 2011
For me, life is like a football game. Selalu ada tujuan dalam hidup kita yang harus kita capai yang dalam sepakbola disebut GOAL. Tapi untuk mencapai goal itu ga gampang. Selalu ada saja yang menghalangi jalan kita untuk meraih goal tersebut, yang kalau di sepakbola biasa disebut lawan (opponent). Kalau ga bisa mencetak gol, salah-salah malah kita yang “kebobolan”. Makanya kita harus bisa “menyerang” sekaligus juga “bertahan”. Untungnya kita ga sendirian dalam mencapai goal itu, selalu ada “team” yang membantu kita, entah itu keluarga, sahabat, pacar, dan orang-orang yang dekat sama kita. Selain menjadi team kita, mereka pun bisa menjadi supporter yang terus mendukung kita. Tapi ga semua orang ada di pihak kita, pasti selalu aja ada pihak-pihak yang ga suka dan mencemooh apa yang kita lakukan. But who cares, apapun yang mereka lakukan kita harus tetap berusaha mencapai tujuan kita, a GOAL!
Dan biar bisa bertanding sepakbola, tentunya kita harus punya tim sepakbola dengan cara masuk klub sepakbola (disini aku mengacu pada pesepakbola professional). Mencari klub bola itu sama kaya mencari pasangan hidup. Percuma kalau kita suka sama satu klub tapi klub itu ga suka sama kita, atau sebaliknya klub itu suka sama kita tapi kitanya ga suka. Tentunya kerjasama ga akan bisa terjalin. Ga gampang menemukan kecocokan antara pesepakbola dengan klub. Setiap klub pasti punya gaya bermain masing-masing, dan mereka bakal mencari pesepakbola yang sesuai dengan karakter bermain klub itu. Sebaliknya si pemain juga memiliki banyak pertimbangan dalam memutuskan klub mana yang bakal dia bela. Selain harus sesuai dengan karakter si pesepakbola, biasanya ada pertimbangan lain seperti lokasi, nama besar klub, pelatih, gaji, teman-teman satu timnya, atau pertimbangan psikologis si pesepakbola sehingga dia memutuskan mau bermain di klub itu.
Hubungan antara sebuah klub dengan seorang pesepakbola itu kaya pacaran. Ketika klub ga mau ngasih apa yang si pesepakbola minta, si pesepakbola itu bakal “ngambek”. Atau pas si pesepakbola itu “mainnya” jelek, klub bakal memilih membangkucadangkan dia. Dan hal terburuk adalah kalau klub dan si pesepakbola sudah sama-sama tidak saling membutuhkan. Otomatis, siap-siap aja diputusin :p
Kadang putusnya hubungan pesepakbola sama klub ga selalu terjadi karena sudah tidak saling membutuhkan. Klub bola tuh ga cuma satu doing, dan pesepakbola juga banyak. Jadi ancaman “orang ketiga” itu selalu ada. Pesepakbola bagus udah pasti jadi incaran banyak klub. Kalau klubnya ga bisa mempertahankan hubungan sama si pesepakbola, jangan nangis kalau si pesepakbola itu milih klub lain. Pesepakbola juga jangan mentang-mentang mainnya bagus terus ga ngasah skill yang dia punya. Pesepakbola handal di luaran banyak, ntar kalau udah ga kepake sama klub bisa-bisa kamu ditendang dan digantikan tempatnya sama orang lain. Makanya kita harus selalu bisa mempertahankan hubungan kita layaknya pesepakbola sama klub. Pesepakbola harus bisa jadi apa yang diinginkan klub, dan klub juga harus bisa ngasih apa yang diinginkan pesepakbolanya. Bukan ga mungkin lho kita bisa bertahan sama satu klub. Kaya Ryan Giggs sama Manchester United, atau Paolo Maldini dengan AC. Milan, atau Francessco Totti sama AS.Roma. semua bisa terjadi karena mereka sanggup bertahan, bisa saling memberi dan melengkapi, dan tidak tergoda dengan “orang ketiga”. Dan itu semua terasa lebih indah ketika kita bisa meraih tujuan bersama, bukan cuma GOAL, tapi kemenangan dan trophy.



