Kamis, 11 Agustus 2011
Perjalanan cinta tidak pernah mulus, itulah yang pernah dikatakan oleh William Shakespeare. Kita hanya bisa menjalani, berusaha, dan memperjuangkan cinta yang kita punya. Tapi lagi-lagi, sebuah hubungan itu dijalani oleh dua orang, ga mungkin kita berusaha dan berjuang sendiri sementara pasangan kita sudah tidak mau mempertahankan. Kalau sudah begini, mau ga mau kita harus berhenti melakukan perjalanan dan “ganti bus” lagi, karena kita juga ga mau kan pergi ke tujuan yang salah.
Yup, aku selalu inget filosofi nunggu bus ala temen aku. Menurut dia, nunggu seseorang yang tepat itu sama seperti nunggu bus. Kita ga perlu mencari bus karena suatu saat bus itu akan datang dengan sendirinya, tapi ketika bus itu datang kita harus menghampiri dan mengejarnya. Dan kita juga ga bisa menaiki sembarangan bus, kita harus menunggu bus yang sesuai dengan tujuan perjalanan kita.
Bukan perkara mudah buat aku harus nunggu bus dalam bentuk manusia itu. Beberapa kali ada orang yang datang menghampiri, tapi aku ga bisa melakukan perjalanan sama dia karena aku ga ngerasa nyaman. Untuk apa kita melakukan perjalanan dengan “bus” yang ga bikin kita nyaman, Cuma buang-buang waktu kan. Makanya ketika aku akhirnya menemukan bus yang sesuai, aku langsung mengejarnya.
Tapi ketika aku udah menemukan bus yang bikin aku nyaman, yang aku pikir bisa membawa aku ke tempat tujuan kita, di tengah jalan dia malah mengganti arah tujuannya. Dan akhirnya aku harus turun dari “bus” itu karena kita udah ga punya tujuan yang sama. Aku masih berharap bisa mengubah tujuan dia kembali pada tujuan awal kita. Tapi ketika pada akhirnya dia bersikeras ingin mengganti tujuannya, aku kembali harus menunggu bus lain yang bisa membawa aku ke tempat tujuan aku. Karena aku ga mau salah jurusan.



