Selasa, 04 September 2012

Think About Future

Menikah adalah impian dari semua wanita. Kadang wanita terlalu sibuk berpikir tentang pernikahan. Otaknya hanya berisi menikah menikah dan menikah, tanpa dia pikirkan siapa yg dia nikahi sebenarnya. Apakah dia telah menikahi orang yang tepat.
Aku punya kriteria yg sangat simpel tentang suami idaman. Cukup setia, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan. Ya itu sudah cukup.
Tapi ternyata ga sesimpel itu. Aku menjalani hubungan serius dgn seseorang, orientasi kita menikah. Dia seorang yg pekerja keras, dia juga penyayang. Aku udah cukup lama berhubungan dengan dia jadi aku udah cukup mengenal dia. Dengan semua kelebihan dan kekurangannya, aku terima dia. Aku sayang sama dia apa adanya. Aku terima dia apa adanya.
Tapi menikah bukan cuma menyatukan dua orang saja. Ada 2 keluarga juga yg harus disatukan. Aku emang menerima dia apa adanya, tapi apakah keluarga aku bisa nerima dia apa adanya, begitupun sebaliknya.
Keluarga aku emang cukup liberal. Tiap orang bebas memilih asal bertanggung jawab. Selama ini mereka emang ga pernah komplain sama siapa aku pacaran. Tapi aku tau, mereka pasti berharap yg terbaik. Setiap orangtua pasti mengharapkan yg terbaik untuk anak-anaknya. Karena bagaimanapun juga ketika anak mereka tersakiti, mereka lebih sakit.
Menikah juga adalah berumah tangga. Dalam rumah tangga ada kehadiran anak-anak. Kita semua pasti berharap menjadi orangtua yg baik bagi anak-anak kita. Oleh karena itu, kita jg harus memilih pasangan yg tepat untuk menjadi partner dalam membesarkan anak-anak. Aku termasuk orang yang selalu mempertanyakan kenapa saya harus lahir di keluarga ini. I have the best mom, but i have terrible father. Dan dari sini aku berpikir, kita emang ga bisa milih siapa yg bakal menjadi orangtua kita, tapi kita bisa memilih siapa yg akan menjadi orangtua dari anak-anak kita. Tentu kita ingin anak-anak kita mencintai orangtua-nya apa adanya juga kan.
Kadang aku berharap orang yg aku cintai apa adanya ini bisa berubah. Bukan untuk aku, tapi untuk keluarga aku, keluarga dia, keluarga yg akan kita buat. Tapi aku sadar kalau cowo itu ga bisa berubah. Aku inget perkataan sahabat aku 4 taun lalu, "kalau kamu pacaran dan bermaksud ngerubah dia, mending putusin sekarang juga. Cowo itu ga pernah bisa berubah". Itu pengakuan dari seorang cowo yang pernikahannya gagal. And i dont wanna like him.
Aku sayang sama dia, sayaaaang banget. I really really love him. Tapi aku juga ga boleh egois cuma mikirin diri aku sendiri. Aku harus mikirin masa depan, my future family and our own family too. Dan karena aku ga bisa ngerubah dia, lebih baik aku yg berubah pikiran.

0 Comments:

Post a Comment